Umum

   
 


 

 

Home

Buku Tamu

Contact

Sejarah IMM

GBHO

AD/ART

DPD

Cabang

Komisariat

Topik

=> Makalah

=> Opini

=> Polhukam

=> Ekonomi

=> Iptek

=> Religi

=> Umum

Muhammadiyah

 


     
 

Hak Kekayaan Intelektual di Universitas Udayana

Sabtu, 05 Januari 2008

Sampai dipenghujung tahun 2007, Unud sudah mengkoleksi dua hak paten dan tujuh merk yang masuk dalam Hak Kekayaan Intelektual. Hak Kekayaan Intelektual menyangkut Hak Cipta, Paten, Merk, Rahasia Dagang, Desain Industri, dan Tata Letak Sirkuit Terpadu.

Untuk menghasilkan HKI tidaklah mudah. Rata-rata lama waktu proses mulai pendaftaran hingga keluarnya sertifikat berkisar tiga sampai enam tahun. Paten dan merk yang dimiliki Unud saat ini adalah:

1. Pemilik: Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, MSc.
a. Formulasi Anti Fungi dan Anti Bakteri yang mengandung ekstrak lengkuas dan daun sirih untuk mengendalikan penyakit layu pisang
b. Formulasi fungisida yang mengandung ekstrak daun sembung delan, daun sirih dan daun cengkeh untuk mengendalikan penyakit busuk batang vanili
c. Frontir
d. PERSADA (Untuk menanggulangi penyakit layu pisang)
e. Biota-L  (Untuk menanggulangi penyakit layu pisang)
f. LOCA (Untuk menanggulangi penyakit layu pisang)
g. Egary (Untuk menanggulangi penyakit hawar daun pada kentang)
h. Sappta (Untuk menanggulangi penyakit busuk buah kakao)

2. Dr. AA. Gde Putra Wiraguna, SpKK
a. Kosmetik WG

3. Prof. Dr. IGP. Wirawan MSc.
a. A chromosal virulent gene acvB product required for DNA transfer into a host cell
b. Plasmid pWR27 membawa klon gen CVPD, gen ketahanan untuk penyakit CVPD pada tanaman jeruk
c. Klon gen acvB, gen chromosome penginduksi tumor
d. Karotenoid fucoxanthin, violaxanthin, dan astaxanthin dari algae laut dan cara mengisolasinya

4. Daftar paten dan merk Unud yang masih dalam proses pendaftaran
a. Formulasi biopestida persada untuk pengendalian penyakit layu pisang, oleh Dr. Ir. I Made Sudana, MS.
b. Metode pembibitan tanaman dengan tunas-tunas muda yang sedang aktif tumbuh dan sistem pembibitannya, oleh Prof. Ir. I Ketut Rika
c. Peralatan dan metode pelapisan elektroplating nikel untuk skala industri rumah tangga, oleh Dr. Tjokorda Gde Tirta Nindhia, ST. MT.
d. Teknik pemanfaatan tenaga surya untuk mempercepat proses pembuatan biogas dari limbah peternakan, oleh Dr. Tjokorda Gde Tirta Nindhia, ST. MT.
e. Oven pengering untuk industri kerajinan kayu, oleh Ir. IGN Nitya Santhiarsa, MT.
f. Cat ALKEN, oleh Ir. Ngakan Anom Wiryasa, MT.

 



TUGAS PANCASILA

Oleh : AMRILLAH

NIM : 0706105055


PANCASILA DALAM KONTEKS PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

 

Pancasila sebelum disyahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI, nilai-nilai pancasila telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum bangsa Indonesia mendirikan negara, yang berupa nilai-nilai adat-istiadat, kebudayaan serta nilai-nialai religius.

Untuk memahami  pancasila secara lengkap dan utuh dalam kaitannya dengan jati diri bangsa Indonesia, mutlak diperlukan pemahaman sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

 

Masyarakat kutai yang membuka zaman sejarah Indonesia yang pertama kalinya ini menampilakan nilai-nilai sosial politik, dan ketuhanan dalam bentuk kerajaan, kenduri, serta sedekah kepada para Brahmana.

 

Menurut Mr. M. Yamin bahwa berdirinya Negara kebangsaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan-kerajaan lama yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Negara bangsaan Indonesia terbentuk melalui tiga tahap yaitu: pertaman, zaman Sriwijaya di bawah wangsa Syailendra (600-1400), yang bercirikan kedatuan. Kedua, Negara kebangsaan zaman Majapahit (1293-1525) yang bercirikan keprabuan, kedua tahap tersebut merupakan Negara kebangsaan Indonesia lama. Kemudian ketiga, Negara kebangsaan modern yaitu Negara Indonesia merdeka (sekarang Negara Proklamasi 17 Agustus 1945)

Sriwijaya merupakan suatu kerajaan besar yang cukup disegani di kawasan Asia selatan. Perdagangan dilakukan dengan mempersatukan antara pedagang pengrajin dan pegawai raja yang disebut Tuha An Vatakvurah sebagai pengawas dan pengumpul semacam koperasi sehingga rakyat mudah untuk memasarkan barang dagangannya. Demikian pula dalam system pemerintahannya terdapat pegawai pengurus pajak, harta benda kerajaan, rokhaniawan yang menjadi pengawas teknis pembangunan gedung-gedung dan patung-patung suci sehingga pada saat itu kerajaan dalam menjalankan system negaranya tidak dapat dilepaskan dengan nilai Ketuhanan.

Agama dan kebudayaan dikembangkan dengan mendirikan suatu universitas agama Budha, yang sangat terkenal di negara lain di Asia. Banyak musyafir dari Negara lain misalnya dari Cina belajar terlebih dahulu di  universitas tersebut terutaman tentang agama Budha dan bahasa Sansekerta sebelum melanjutkan studinya ke India. Malahan banyak guru-guru besar tentang kesejahteraan bersama dalam suatu Negara telah tercermin pada kerajaan Sriwijaya tersebut yaitu berbunyi ‘marvuat vanua Criwijaya siddhayatra subhiksa’

 

Zaman Kerajaan Majapahit

Di Jawa Timur munculah kerajaan-kerajaan Isana (pada abad ke IX), Darmawangsa (abad keX) demikian juga kerajaan Airlangga pada abad ke XI. Raja Airlangga membuat bangunan keagamaan dan asrama, dan raja ini memiliki toleransi dalam beragama. Agama yang diakui oleh kerajaan adalah agama Budha, agama Wisnu dan agama Syiwa yang hidup berdampingan secara damai. Menurut prasasti Kelagen, Raja Airlangga telah mengadakan hubungan dagang dan bekerja sama dengan Benggala, Chola dan Champa hal ini menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan. Demikian pula Airlangga mengalami penggemblengan lahir dan bathin di hutan dan tahun 1019 para pengikutnya, rakyat dan para Brahmana bermusyawarah dan memutuskan untuk memohon Airlangga bersedia menjadi raja, meneruskan tradisi istana, sebagai nilai-nlai sila keempat. Demikian pula menurut prasasti Kelagen, pada tahun 1037, raja Airlangga memerintahkan untuk membuat tanggul dan waduk demi kesejahteraan petani rakyat yang merupakan nilai-nilai sila kelima.

Diwilayah Kediri Jawa Timur berdiri pula kerajaan Singasari (pada abad ke XIII), yang kemudian sangat erat hubungannya dengan berdirinya kerajaan Majapahit.

 

Pada tahun 1293 berdirilah kerajaan Majapahit yang mencapai zaman keemasan pada pemerintahan raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.

Pada waktu itu agama Hindu dan Budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu kerajaan. Empu Prapanca menulis Negarakertagama (1365). Dalam kitab tersebut telah terdapat istilah “Pancasila”. Empu Tantular mengarang buku Sutasoma, dan didalam buku itulah kita jumpai seloka persatuan nasional yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bunyi lengkapnya “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharna Mangrua”, artinya walaupun berbeda, namun satu jua adanya sebab tidak ada agama yang memiliki tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu agama Hindu dan Budha. Bahkan sala satu bawahan kekuasaannya yaitu Pasai justru telah memeluk agama Islam. Toleransi positif dalam bidang agama dijunjung tinggi sejak masa bahari yang telah silam.

Sumpah palapa yang diucapkan oleh mahapatih Gajah Mada dalam siding Ratu dan Menteri-menteri di paseban keprabuan Majpahit pada tahun 1331, yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut: ‘Saya baru akan berhenti berpuasa makan pelapa, jikalau seluruh nusantara bertakluk di bawah kekuasaan Negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik telah dikalahkan.

Selain itu dalam hubungannya dengan Negara lain raja Haya Wuruk senantiasa mengadakan hubungan bertetangga dengan baik dengan kerajaan Tiongkok, Ayodya, Champa dan Kamboja. Menurut prasasti Brumbung (1329), dalam tata pemerintahan kerajaan Majapahit terdapat semacam penasehat seperti Rakryan I Hino, I Sirikan, dan I Halu yang bertugas memberikan nasehat kepad raja, hal ini sebagai nilai-nilai musyawarah mufakat yang dilakukan oleh system kerajaan Majapahit.

 

Zaman Penjajahan

Bangsa asing yang masuk ke Indonesia yang pada awalnya berdagang adalah orang-orang Portugis.  Namun lama kelamaan bangsa Portugis mulai menunjukkan peranannya dalam bidang perdagangan yang meningkat menjadi praktek penjajahan misalnya Malaka sejak tahun 1511 dikuasai oleh Portugis.

Pada akhir abad ke XVI bangsa Belanda datang ke Indonesia dengan menempuh jalan yang penuh likaliku. Untuk menghindarkan persaingan antara mereka sendiri (Belanda)¸kemudian mereka mendirikan suatu perkumpulan dagang yang bernama VOC yang dikalangan rakyat dikenal dengan istilah “Kompeni”

Praktik-praktik VOC mulai kelihatan dengan paksaan-paksaan rakyat  sehingga mulailah timbul perlawanan dari rakyat yang berakibat Gubernur Jenderal J.P Coen. Penghisapan yang dilakukan Belanda mencapai puncak yaitu ketika belanda melakuan monopoli melalui system tanam paksa (1830-1870).

 

Kebangkitan Nasional

Pada abad ke XX politik internasional menampakkan wajah baru, yaitu dengan terjadinya kebangkitan Dunia Timur dengan suatu kesadaran akan kekuatannya sendiri. Di Indonesia ditandai dengan berdirinya beberapa organisasi pergerakan nasional, yang dimulai pada tanggal 20 Mei 1908 berdirinya Budi Utomo dan diikuti oleh beberapa Organisasi yang lain.

 

Zaman Penjajahan Jepang

Setelah Belanda jatuh ketangan tentara nazi Jerman jepang masuk ke Indonesia dengan propaganda “Jepang Pemimpin Asia, Jepang saudara tua banngsa Indonesi”. Karena terdesak oleh prelawanan Sekutu Barat, maka jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia kelak dikemudian hari dan direalisasikan dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang Dokuritu Zyunby Tioosakai. BPUPKI beranggotakan 63 termasuk anggota biasa.

BPUPKI melakuakan beberapa kali sidang yaitu: sidang yang pertama, membahas tentang dasar Negara sedangkan yang kedua, membahas tentang Undang-undang Negara merdeka. Ada beberapa usul tentang Dasar Negara yang disampaikan oleh:

Mr. Muh. Yamin (29 Mei 1945)

  1. Peri kebangsaan
  2. Peri kemanusiaan
  3. Peri ketuhanan
  4. Peri kerakyatan
  5. Kesejahteraan rakyat

 

Ir. Soekarno (1 Juni 1945)

  1. Nasionalisme (kebangsaan Indonesia)
  2. Internasionalisme (peri kemanusiaan)
  3. Mufakat (demokrasi)
  4. Kesejahteraan social
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa (Ketuhanan

 

Proklamasi kemerdekaan

Pada tanggl 7 Agustus 1945 dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang beranggotakan 21 orang termasuk ketua dan wakil ketua. Panitia tersebut diketuai oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta sebagai wakilnya.

Setelah menerima kepastian bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada sekutu segera rakyat Indonesia mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan dalam proses persiapan tersebut sempat terjadi perselisihan antara golongan muda dan golongan tua tentang waktu dan pelaksanaan proklamasi. Sehingga golongan muda mengasingkan Soekrano ke Rengasdengklok untuk menghindari pengaruh dari Jepang. Pada malam pelaksanaan proklamasi Indonesia Soekarno dan Hatta pergi kerumah Laksamana Maeda untuk membicarakan konsep Proklamasi beserta naskah proklamasi tersebut. Yang turut hadir disana adalah B.M. Diah, Bakri, Sayuti Melik, Dr. Buntaran, Mr. Iwakusuma Sumantri dan beberapa anggota PPKI yang lain.

Dan pada pagi harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tepat hari Jum’at jam 10 wib Bung Karno dengan didampingi oleh Hatta membacakan naskah Proklamasi sebagai berikut

 

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 2605

Atas Nama Bangsa Indonesi

Soekarno Hatta

 

Sidang PPKI

Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia PPKI menggelar beberapa kali sidang

Sidang yang pertama, membahas tentang konstitusi negera yaitu Undang-undang beserta seluruh perubahannya.

Sidang yang kedua, membahas tentang wilah provinsi, serta departemen-departemen yang meliputi 12 Departemen.

Sidang yang ketiga, pembentukan Badan Penolong Korban Perang beserta Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Sidang yang keempat, membahas tentang Komite Nasional Partai Nasional.

 

Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Belanda tidak rela melepaskan Indonesia dari jajahannya, untuk itu belanda mempropagandakan ke dunia Internasional bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hadih dari Jepang. Karena hal itu kondisi politik Indonesia tidak stabil dan inflikasinya sering terjadinya bongkar pasang kabinet. Mulai dari Kabinet Presidensial, Kabinet Parlementer berdasarkan asas demokrasi liberal yang mana dalam pelaksanaannya sudah menyalahi konstitusi dari UUD 1945., yang secara ideologis juga menyalahi dari amanat Pancasila.

Ancaman ketahanan kedaulatan RI 1945 tidak hanya datang dari luar, bahkan dari dalam negeripun ancaman banyak sekali yang datang mulai dari keinginan membentuk Negara Islam sampai keinginan kelompok tertentu mengubah ideology bangsa dari Pancasila menjadi Manipol Usdek  serta konsep nasakom. Kejadian tersebut memuncak pada tanggal 30 September 1965 yaitu ketika tentara nasional melakukan pembersihan yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto dan kejadin tersebut merupakan awal pemerintahan Orde Baru.

 
 

Today, there have been 3 visitors (14 hits) on this page!

 

 
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Would you also like to have your own website?
Sign up for free